PETA POLITIK
PEROLEHAN SUARA HASIL PILKADA SUMBAWA BARAT 2005
1. GAMBARAN UMUM PETA PEROLEHAN SUARA PILKADA KSB
1.1. Perolehan Suara Pilkada Langsung KSB 2005
Pada pilkada 2005 di Kabupaten Sumbawa Barat terdapat 5 pasangan calon Kepala Daerah (KDH) dan Wakil Kepala Daerah (WKDH) yang dinyatakan lulus verifikasi sebagai pasangan calon KDH dan WKDH oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah Kabupaten Sumbawa Barat (KPUD KSB). Kelima pasangan calon tersebut berdasarkan nomor urut adalah sebagai berikut; (1) Drs. H.M Hatta Taliwang dan H. Abdul Razak, S.H yang diusung PAN, (2) Drs. H. Salim Ahmad dan H.M Syafe’i, yang diusung partai Golkar (3) KH Zulkifli Muhadli, S.H. dan Drs. Malarahman yang diusung PBB dan PIB (4) Ir. H. Busrah Hasan dan Drs. Abdul Hamid Rahman yang diusung oleh PPP dan didukung PDI-P. (5) Andi Azisi Amin, SE, M.Sc dan Drs. H. Muchsin Hamim.
Dari jumlah Pemilih Pilkada Langsung sebanyak 70147 pemilih, sebanyak 54916 pemilih yang menggunakan hak pilihnya, dan sebanyak 15195 yang tidak memilih. Berdasarkan perolehan suara hasil Pilkada 2005, Perolehan suara terbesar diperoleh pasangan KH. Zulkifli Muhadli dan Malarahman, diikuti Pasangan Andi Azisi Amin dan H. Muchsin Hamin, Busrah Hasan dan Abdul Hamid Rahman, pasangan Salim Ahmad dan H.M Syafei’i, serta pasangan Hatta Taliwang dan Abdul Razak., dengan perolehan suara masing-masing Pasangan Calon adalah sebagai berikut :

Syahrul Mustofa : Data diolah hasil perolehan suara Pilkada KSB model DB I KWK
Berdasarkan hasil tersebut diatas, Pasangan KH Zulkifli Muhadli dan Malarahman berhasil mencapai prosentase perolehan suara 31,30% persen. Semetara posisi kedua Pasangan Andi Azisi Amin dengan prosentase perolehan suara sebanyak 23,46%, Busrah Hasan dan Abdul Hamid Rahman 20,67 % persen, Salim Ahmad dan H.M Syafe’i sebanyak 19,15% (persen), serta pasangan Hatta Taliwang dan H. Abdul Razak sebanyak 5,42 % (persen). Berikut tabel prosentase perolehan suara pasangan calon :

Syahrul Mustofa : Data diolah hasil perolehan suara Pilkada KSB model DB I KWK
Bila dilihat dari prosentase perolehan suara pasangan calon sebagaimana diatas, terlihat bahwa tidak ada satupun pasangan calon yang mencapai 50% + 1, Sehingga, kendati pasangan calon terpilih memenuhi ketentuan persyaratan sebagaimana yang tercantum dalam UU.No.32 tahun 2004 dan PP No.6 tahun 2005, akan tetapi posisi kedua pasangan ini masih cukup riskan untuk mengalami delegitimasi politik. Jika, pertama ; kedua pasangan ini tidak dapat merangkul kekuatan politik dari para pendukung pasangan calon lainnya. Kedua ; adanya eksodus perpindahan dukungan pemilih dari pasangan tersebut ke pasangan calon lainnya (pihak yang kalah), maka akumulasi perolehan suara yang belum mencapai angka mayoritas mutlak tersebut akan semakin mengalamai defisit Sehingga dukungan semakin melemah dan kondisi ini akan semakin membuka peluang untuk lahirnya kerentanan politik.
1.2. Perolehan Suara di tingkat Desa
Komposisi perolehan suara di tingkat desa adalah merupakan cermin untuk melihat sejauhmanakah tingkat sebaran dukungan pasangan calon. Disamping itu, desa sebagai unit pemerintahan terdepan dalam pelayanan public sesungguhnya merupakan komunitas politik yang real dan paling dekat dengan masyarakat. Dukungan politik masyarakat desa terhadap pasangan calon merupakan cermin dari sikap politik masyarakat secara umum yang ada di desa bersangkutan. Hasil Pilkada menunjukkan bahwa dari 38 Desa, sebanyak 14 desa dimenangkan oleh Pasangan KH. Zulkifli Muhadli dan Malarahman, Kemenangan tersebut diraih desa dalam Kecamatan Brang Rea dan Kecamatan Taliwang. Pasangan Andi Azisi Amin dan H Muchsin Hamim memenangkan 12 desa, kemenangan umumnya desa dalam Kecamatan Seteluk. Pasangan Busrah Hasan dan Abdul Hamid Rahman memenangkan di 6 desa, kemenangan tersebut dalam desa Kecamatan Sekongkang. Pasangan Salim Ahmad dan M. Syafee’i memenangkan di 5 desa, kemenangan tersebut diraih dalam desa di Kecamatan Seteluk. Dan terakhir pasangan Hatta Taliwang dan Abdul Razak yang memenangkan 1 desa dalam kecamatan Brang Rea. Berikut ini data nama desa dan kemenangan pasangan calon:
| Desa-desa yang di menangkan Pasangan Calon KH Zulkifli Muhadli dan Drs Malarahman | ||||
| No | Nama Desa | Total Jumlah Suara Sah di Desa | Total Jumlah Suara Pasangan | Nama Kecamatan |
| 1 | Bangkat Monteh | 1585 | 565 | Brang Rea |
| 2 | Tepas | 2036 | 746 | |
| 3 | Sapugara Bree | 1347 | 434 | |
| 4 | Meraran | 972 | 427 | Seteluk |
| 5 | Kelanir | 528 | 267 | |
| 6 | Kuang | 3988 | 1869 | Taliwang |
| 7 | Dalam | 4742 | 1330 | |
| 8 | Menala | 3774 | 2104 | |
| 9 | Sampir | 2011 | 997 | |
| 10 | Bugis | 1914 | 672 | |
| 11 | Mura | 1436 | 948 | |
| 12 | Kalimantong | 1219 | 642 | |
| 13 | Kertasari | 913 | 347 | |
| 14 | Labuhan Lalar | 1784 | 726 | |
| 15 | Sekongkang Bawah | 542 | 313 | Sekongkang |
| Desa-Desa yang di menangkan Pasangan Calon Andi Azisi Amin,SE.Msi dan Drs. H.Muchsin Hamin | ||||
| 1 | Seteluk Atas | 1098 | 680 | Seteluk |
| 2 | Mantar | 1704 | 638 | |
| 3 | Tambak Sari | 323 | 109 | |
| 4 | Poto Tano | 1472 | 423 | |
| 5 | Per Tapir | 525 | 225 | |
| 6 | Rempe | 1288 | 553 | |
| 7 | Seloto | 1067 | 402 | Taliwang |
| 8 | Benete | 741 | 245 | Jereweh |
| 9 | Maluk | 3164 | 1323 | |
| 10 | Sekongkang Atas | 1030 | 449 | Sekongkang |
| 11 | Tongo | 599 | 209 | |
| Desa-desa yang di menangkan Pasangan Calon Ir. H. Busrah Hasan dan Drs. Abdul Hamid Rahman | ||||
| 1 | Seteluk Tengah | 2065 | 887 | Seteluk |
| 2 | Senayan | 997 | 368 | |
| 3 | Air Suning | 1497 | 484 | |
| 4 | Tatar | 271 | 108 | Sekongkang |
| 5 | Ai’ Kangkung | 424 | 180 | |
| 6 | Talonang Baru | 468 | 147 | |
| | | | | |
| Desa-desa yang di menangkan Pasangan Calon Drs. H. Salim Ahmad dan H.M Syafe’i | ||||
| 1 | Goa | 1420 | 564 | Jereweh |
| 2 | Beru | 1770 | 1161 | |
| 3 | Belo | 1193 | 859 | |
| 4 | Lalar Liar | 793 | 339 | Taliwang |
| Desa-desa yang di menangkan Pasangan Calon H.M Hatta Taliwang, BSW dan H.Abdul Razak,S.H | ||||
| 1 | Desa Beru | | | Brang Rea |
Syahrul Mustofa : Data diolah hasil perolehan suara Pilkada KSB model DB I KWK
Peta perolehan suara diatas menggambarkan bahwa pertama tidak ada satupun dari pasangan calon yang berhasil meraih kemenangan desa dalam 5 (lima) kecamatan. Pasangan KH Zulkifli Muhadli dan Malarahman, berhasil menguasai desa dalam Kecamatan Taliwang dan Kecamatan Brang Rea. Namun, Pasangan ini gagal meraih dukungan kemenangan dalam desa kecamatan Jereweh. Sementara Pasangan Andi Azisi Amin dan H. Muchsin Hamin, berhasil memenangkan dalam desa Kecamatan Seteluk, namun pasangan ini tidak satupun berhasil meraih kemenangan desa dalam Kecamatan Brang Rea. Pasangan Busrah Hasan dan Abdul Hamid Rahman berhasil memenangkan desa dalam kecamatan Sekongkang, namun ditiga kecamatan lainnya, yakni Kecamatan Jereweh, Brang Rea dan Taliwang, pasangan ini tidak satupun memperoleh kemenangan dalam desa. Pasangan Salim Ahmad dan H.M Syefe’i, berhasil memenangkan desa dalam Kecamatan Jereweh, namun di tiga Kecamatan Lain, Kecamatan Brang Rea, Sekongkang dan Seteluk tidak ada satupun desa yang berhasil dimenangkan. Sementara itu, Pasangan Hatta Taliwang dan H. Abdul Razak hanya memenangkan 1 desa dari lima Kecamatan yang ada. Kedua ; hasil tersebut diatas menunjukkan adanya fakta bahwa pasangan calon berhasil meraih dukungan dan kemenangan di daerah yang merupakan basis domisili atau garis keturunan dimana mereka berasal.
Prosentase kemenangan berdasarkan kategorisasi desa dalam wilayah kecamatan Pasangan KH. Zulkifli Muhadli dan Malarahman mencapai 40.,54% persen , pasangan Andi Aziz dan H. Muchsin Hamin 29,73% persen, Busrah Hasan dan Abdul Hamid Rahman 16,22%, Salim Ahmad sebanyak 10,81% persen, dan Hatta Taliwang dan Abdul Razak sebanyak 2,70% persen. Berikut ini tabel komposisi prosentase perolehan kemenangan pasangan calon di tingkat Desa :

Syahrul Mustofa : Data diolah hasil perolehan suara Pilkada KSB model DB I KWK
Prosentase kemenangan sebagaimana diatas menunjukkan bahwa tidak ada satupun pasangan calon yang berhasil meraih lebih dari 50% persen dari jumlah desa yang ada. Dengan komposisi kemenangan desa dalam kecamatan sebagaimana diatas, maka terlihat bahwa sebaran dukungan pasangan calon tidaklah merata. Terdapat sentral-sentral basis dukungan setiap calon dalam wilayah kecamatan tertentu. Kondisi ini berpotensi melahirkan adanya dukungan dan legitimasi yang kuat bagi pasangan calon tertentu dalam satu wilayah. Dan sebaliknya, terdapat daerah yang tingkat legitimasi dukungan pemilih sangat rendah. Sehingga, keseimbangan politik rentan rapuh dan berpotensi melahirkan terjadinya konflik politik kewilayahan. Bila pasangan calon terpilih gagal untuk mengakomodasikan kepentingan politik massa pendukung calon lainnya.
1.3. Perbandingan Perolehan Suara Pemilu dan Pilkada
Bila kita bandingkan hasil perolehan suara Pemilu dengan hasil perolehan suara pasangan calon dalam Pilkada Langsung, maka terlihat bahwa sikap dan Pemilih tidaklah bersifat linear, Pemilih yang pada Pilkada mencoblos parpol dan figur calon, bukan bearti secara otomatis akan memilih Pasangan Calon yang diusung oleh Partai Politik yang dicoblosnya. Hal ini terbukti dari perolehan hasil Pilkada di KSB. Partai Golkar yang pada Pemilu 2004 mendominasi perolehan suara di semua Daerah Pemilihan (DP) di KSB, ternyata perolehan suara dari pasangan calon yang diusungnya hanya sebanyak 10371 suara, meskipun dari akumulasi perolehan suara bertambah 716 suara. PPP yang didukung PDI-P bila hasil perolehan suara dalam Pemilu 2004 kedua partai ini digabung berjumlah 11210, namun dalam Pilkada pasangan ini hanya memperoleh 11192 suara atau menurun 18 suara. PAN juga mengalami nasib yang sama, hasil perolehan suara PAN pada Pemilu 2004 sebanyak 3501 suara, namun dalam Pilkada pasangan calon yang diusung PAN hanya memperoleh 2937 suara.
Kecendrungan Pemilih bergeser kepasangan calon yang diusung oleh PBB bersama PIB dan pasangan calon yang diusung oleh PKS. PBB bersama PIB yang bila digabungkan perolehan suara hasil Pemilu 2004, hanya mencapai 5114 suara, pada Pilkada pasangan calon yang diusung kedua partai ini berhasil mencapai 16949 suara atau bertambah sebanyak 11835 suara. Sedangkan PKS yang pada Pemilu 2004 perolehan suaranya hanya 3809 pada Pilkada pasangan calon yang diusung PKS berhasil mencapai 12705 atau bertambah 8896 suara. Berikut perbandingan Perolehan Suara Pemilu 2004 dan Pilkada Langsung 2005 :

Syahrul Mustofa : Data diolah hasil perolehan suara Pilkada KSB model DB I KWK
Dari gambaran tersebut diatas nampak jelas bahwa sejumlah pemilih pada Pilkada 2005 banyak yang “lompat pagar” dari pilihan sebelumnya (Pemilu 2004). Dan hal ini menunjukkan adanya kecendrungan kuat pemilih pada Pemilu 2004 sesungguhnya adalah bukan Pemilih atau kader partai politik yang loyal terhadap partai politik. Peran dan pengaruh partai politik tidaklah cukup signifikan dalam menentukan pasangan calon. Aspek figur, nampaknya menjadi pertimbangan kuat pemilih dalam menentukan sikap dan pilihan politiknya, pertimbangan subjektivitas dan otonomi politik individu ini mendorong pemilih untuk “memutus” garis patronase politik dengan para elite politik partai. Bahkan, tidak sedikit kader parpol (mantan caleg) yang memilih dukungan lain dari partai politik yang telah dikendarainya pada pemilu 2004.
2. FAKTOR-FAKTOR UMUM PENDORONG KEMENANGAN
2.1. Faktor-faktor Pendorong Kemenangan dan Kekalahan
Terpilihnya pasangan KH.Zulkifli Muhadli dan Drs. Malarahman sebagai Bupati dan Wakil Bupati KSB periode 2005-2010, masih menjadi pertanyaan besar. Apa yang mendorong pasangan ini memenangkan Pilkada Langsung di KSB? Pasalnya, perolehan suara yang diraih oleh partai pengusung (PBB dan PIB) tidaklah cukup signifikan dalam Pemilu 2004. Sebaliknya, pertanyaan mengapa pasangan calon yang diusung oleh sejumlah partai yang notabennya pada Pemilu 2004 merupakan partai yang meraih dukungan suara besar dalam Pemilu justeru terpuruk dalam Pilkada? Untuk menjawab pertanyaan ini, begitu banyak variable yang mempengaruhi faktor pendorong kegagalan dan kemenangan. Dan perdebatan tentang hal inipun akan sangat beragam, karena adanya perbedaan sudut pandang setiap orang dalam menilai variable dan indikator penilian. Dalam konstek ini penulis, tidak bermaksud untuk mendikreditkan Partai atau pasangan calon tertentu, dalam memberikan penilaian. Semata-mata dalam kerangka ini untuk mengidentifikasi pendapat umum tentang faktor-faktor kemenangan dan kekalahan pasangan calon dalam Pilkada.
Pembahasan ini akan dimulai dengan mengidentifikasi beberapa variable penting yang mempengaruhi kemenangan atau kekalahan dalam Pilkada langsung. Secara umum ada dua hal penting yang akan mempengaruhi kemenangan atau kelahan pasangan calon dalam Pilkda Langsung. Yakni, faktor internal dari Partai dan Pasangan Calon itu sendiri dan kedua adalah faktor eksternal, yakni situasi dan kondisi pemilih. Faktor internal dari dalam meliputi ;
Pertama ; adalah faktor figur (Pasangan calon). Sosok figur pasangan calon dalam Pilkada Langsung sangat menentukan sikap pemilih. Figur calon dilihat oleh pemilih sebagai faktor utama untuk menjatuhkan sikap politiknya, Pemilih tidak melihat darimana partai dari figur pasangan calon, tetapi lebih melihat bagaimana sosok figur calon tersebut. Dalam konteks ini, maka setiap Pemilih memiliki mainstream sendiri-sendiri tentang sosok atau figur yang ideal menurut ukurannya masing-masing. Oleh sebab itulah, faktor kemenangan dan kekalahan pasangan calon, akan sangat tergantung dari bagaimana pemilih melihat sosok atau figur yang ideal. Peran partai dalam konteks ini haruslah mampu menangkap apa yang menjadi masitream sosok / figure yang ideal dalam pandangan atau sikap pemilih. Partai yang mampu untuk mengakomodasikan kepentingan dan pandangan sikap pemilih akan sangat berpeluang untuk meraih dukungan suara, dan sebaliknya parpol dan pasangan calon yang tertutup akan semakin kecil memperoleh dukungan suara.
Kedua ; strategy politik. Strategy politik akan sangat menentukan sejauhmanakah partai atau pasangan calon dapat meraih dukungan. Dalam konteks strategy, pemahaman atas peluang dan tantangan, kelemahan dan kekuatan lawan atau kawan sangat membantu untuk dapat memainkan strategy politik yang akan dikembangkan, termasuk alat atau instrument yang akan digunakan, pendekatan politik, dan para aktor utama dan pendukung dari strategy tersebut. Ketiga ; supporting sistem. Suporting sistem adalah merupakan factor pendukung untuk menopang kedua hal tersebut diatas, suporting sistem tersebut antara lain berupa dukungan modal, program, jaringan, kelembagaan, dan sebagainya.
Sedangkan untuk faktor ekseternal, kemenangan atau kekalahan Pasangan Calon akan sangat ditentukan dari : Sikap, nilai dan pandangan pemilih. Hal ini akan sangat tergantung dari tingkat pendidikan pemilih, kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh pemilih, kepentingan dan harapan pemilih, nilai-nilai dasar yang dimiliki oleh setiap pemilih, dan pandangan pemilih atas situasi dan kondisi setempat. Dalam konteks ini, kemampuan partai dan pasangan calon untuk melihat masalah, keinginan dan kebutuhan, serta harapan pemilih sangatlah menentukan kemenangan. Pasangan calon yang mampu untuk mengakomodir berbagai kepentingan dan kebutuhan pemilih, jauh akan lebih berpeluang untuk meraih dukungan suara daripada pasangan calon yang hanya mengkedepankan konsep kepentingan dan kebutuhan pribadi atau kelompoknya. Dalam konteks ini, maka peran partai dan pasangan calon untuk menggali berbagai persoalan menjadi sangat penting, sehingga issue yang dikampanyekan sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Pasangan calon dan partai yang mampu mendekatkan issue (visi, misi, program dan kegiatan) berpotensi untuk meraih dukungan suara, karena dipandang pemilih akomodatif terhadap kepentingannya.
Dalam Pilkada KSB, harus diakui bahwa suasana efouria Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat masih menyelimuti pemilih di KSB. Bahkan, issue Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat menjadi salah satu issue yang cukup populer. Secara umum, hampir semua pasangan calon KDH dan WKDH mengusung issue Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat sebagai salah satu issue utama. Dalam dialog public, 7 Juni 2005, yang berlangsung di gedung Teater Taliwang, semua pasangan calon mengangkat kembali perjalanan pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat. Sebagian besar pasangan calon merefleksikan kembali sejarah perjalanan Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat dan peran yang mereka lakukan dalam proses tersebut. Issue ini semakin ramai ketika pada massa kampanye, antar calon saling mengclaim sebagai pahlawan pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat dan mempertanyakan konstribusi yang diberikan oleh pasangan calon lainnya. Suasana ini, tentu saja sadar atau tidak telah menaikkan citra politik pasangan KH.Zulkifli Muhadli dan Drs Malarahman, yang notabennya sebagai Ketua KPKSB, K.H. Zulkifli Muhadli, dinilai masyarakat telah memberikan konstribusi terbesar dalam perjuangan pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat dibandingkan dengan pasangan calon lainnya. Kendati belum ada varibel dan tolak ukur penilaian yang jelas terkait hal ini. Akan tetapi, pandangan publik mengatakan demikian. Faktor inilah sebagai salah satu pendorong mengapa pasangan ini kemudian terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati terpilih.
Disamping itu, faktor pendorong lainnya adalah issue kontraproduktif yang dibangun oleh sejumlah team kampanye dan pasangan calon melalui black campaign. Sejak issue Pilkada Langsung bergulir, berbagi issue berbau black campaign seperti dugaan ijazah palsu, dugaan pemalsuan laporan daftar kekayaan, hingga issue dugaan money politik yang diusung oleh sejumlah team kampanye dan pasangan tertentu sebagai salah satu langkah untuk merebut hati dan pikiran pemilih ternyata justeru berbalik arah ketika berbagai tudingan tersebut tidak dapat dibuktikan, dukungan terus mengalir kepada pasangan calon KH.Zulkifli Muhadli dan Malarahman. Kesempatan kampanye “gratis” justeru semakin terbuka lebar, dan semakin membuka peluang bagi kedua pasangan calon ini untuk menarik simpatik massa.
Suasana psikopolitik yang terbangun kemudian menempatkan pasangan calon terpilih seakan sebagai “orang yang teraniya”, yang dipandang oleh Pemilih perlu untuk dibantu dan dibela, dengan cara mencoblosnya pada saat pemungutan suara berlangsung. Black campaign, disatu sisi memang dapat meruntuhkan citra politik seseorang manakala black campaign tersebut didukung oleh sebuah fakta dan data yang objective dan sebaliknya dapat pula meningkatkan citra politik seseorang, bilamana black campaign tersebut gagal didukung oleh fakta dan data yang valid. Issue black campaign, dalam psikopolitik masyarakat KSB yang toleran cenderung menjadi issue yang kurang populis, dimata masyarakat adalah sebuah fitnah, bertentangan dengan nilai agama dan sosial. Berbeda halnya dengan masyarakat maju, seperti Amerika Serikat misalnya, issue black campign adalah issue yang lumrah dan biasa, dan dibutuhkan oleh pemilih untuk melihat sejauhmanakah latar belakang dan performance sosok figur calon. Sehingga pemilih dapat betul-betul mengenal siapa sosok atau figure dari calon tersebut. Namun, kondisi di KSB justeru sebaliknya, black campaign telah menjadi bumerang politik, karena kondisi dan krakteristik masyarakat KSB yang lebih mengkedepankan aspek kebersamaan, kekeluargaan, dan toleransi.
Disamping hal tersebut diatas, secara umum beberapa faktor lainnya pendorong kekalahan sejumlah pasangan calon antara lain disebabkan karena pertama ; Melompatnya sejumlah kader parpol dari garis platform partai. Hal ini disebabkan antara lain ; (a) ideologi kader partai politik yang belum terbangun secara mapan, sehingga, konsistensi sikap politik dan loyalitas terhadap partainya sangat rapuh. (b) kurangnya komunikasi dan konsolidasi politik partai disatu sisi serta munculnya kekecewaan sejumlah kader partai terhadap calon yang diusung partainya. (c) adanya perbedaan sikap dalam menentukan pasangan calon yang diajukan oleh kader parpol, karena disebabkan mekanisme pencalonan pasangan calon yang diusung oleh parpol dianggap kurang partisipatif, terbuka dan demokratis[1]. Perbedaan sikap ini tidak mampu diselesaikan dalam kesepakatan dan mekanisme partai, sehingga sejumlah kader partai merasa tidak diakomodir kepentingannya dalam Pilkada, dan pada akhirnya memilih sikap politik yang berbeda dari garis partainya. Hal ini tercermin dari Pilihan sejumlah kader parpol, yang notabennya pada Pemilu 2004 sebagai caleg dari Parpol tersebut, namun pada Pilkada justeru mendukung pasangan calon yang diajukan oleh partai politik lain. Sikap ini adalah sebagi bentuk kekcewaan sekaligus reaksi lader maupun pemilih terhadap sikap partai yang dinilai kurang akomodatif. Kedua ; Pemilih pada Pilkada cenderung untuk tidak lagi menempatkan posisi Parpol, sebagai satu-satunya, kendaraan “teraman” untuk mengagregasikan dan mengartikulasikan kepentingannya. Kehadiran dan peran KDH dan WKDH dipandang lebih strategis dan lebih “menjanjikan” sebagai sarana bagi pemilih untuk menyandarkan harapan dan cita-citanya daripada Parpol. Banyaknya tawaran dan alternative pilihan bagi pemilih yang ditawarkan oleh pasangan calon melalui visi, misi dan program, turut mendorong dan mempengaruhi sikap pemilih. Arah penilian dan pilihan Pemilih, mulai bergeser dari kepartaian kearah sosok atau figur pasangan calon, visi, misi dan program. Sehingga, Parpol oleh sebagian pemilih dinilai hanya sebatas sebagai kendaraan ketika pencalonan Pasangan Calon. Pengaruh dan peran parpol dalam Pilkada tidak lagi sangat signifikan dalam menentukan arah, sikap dan pilihan pemilih. Ketiga ; Psikopolitik masyarakat yang gamang terhadap sejumlah pasangan calon, karena sebagian besar pasangan calon yang diusung oleh partai selama ini tinggal diluar KSB serta keraguan komitmen perjuangan terhadap pembangunan KSB dimasa mendatang, membuat pemilih terjerambah dalam memori dan keyakinan keberhasilan perjuangan KPKSB. Sehingga menjadi salah satu pemicu meningkatnya perolehan suara pasangan calon tertentu, dan sebaliknya menjadi “bumerang” bagi pasangan calon lainnya. Keempat ; harus diakui bahwa salah satu keberhasilan, pasangan calon yang terpilih saat ini, disebabkan karena partai pengusung, pasangan calon dan team pendukung pasangan calon tersebut, secara individu maupun secara organisasi telah bekerja, bahkan jauh-jauh hari sebelum bendera dan tanda pasangan calon dikibarkan dalam masa kampanye. Meskipun hal yang sama juga terjadi pada sejumlah partai pengusung dan pasangan calon lainnya, namun upaya yang ditempuh tidaklah seefektif pasangan calon yang terpilih saat ini.
Selaian hal tersebut diatas, faktor lainnya yang turut mendukung kegagalan sejumlah pasangan calon adalah mesin partai yang kurang berjalan efektif. Dalam Pemilu sebagian besar pengurus partai bergerak, karena memang memiliki kepentingan, kebutuhan dan keinginan yang sama, ruang kekuasaan yang lebih besar, sehingga dapat menguntungkan secara politik. Sementara, dalam Pilkada peran pengurus Partai hanya mengantarkan Pasangan calon, kepentingan dan kebutuhan lebih mengkedepankan pasangan calon, dan ruang politik yang tersedia sangat terbatas, sehingga kesempatan untuk meraih posisi tersebut juga sangat terbatas. Disamping konstribusi atas manfaat langsung terhadap partai dalam Pilkada langsung yang masih diragukan sejumlah pengurus partai. Inilah salah satu factor pendorong mengapa mesin partai kurang berjalan efektif.
3. PETA PEROLEHAN SUARA DIMASING-MASING KECAMATAN
Peta perolehan hasil Pilkada di masing-masing Kecamatan akan menggambarkan secara rinci tentang perolehan suara pasangan calon dimasing-masing kecamatan. Melalui gambaran ini diharapkan peta perolehan suara pilkada dapat dilihat lebih detail dan komprehensif.
3.1. Perolehan Suara Kecamatan Brang Rea
Dari 4 (empat) desa yang ada di Kecamatan Brang Rea, dengan jumlah suara sah sebanyak sebanyak 6385 suara sah, pasangan KH. Zulkifli Muhadli dan Malarahman berhasil meraih 2078 suara, dan berhasil mememangkan di tiga Desa, yakni Desa Bangkat Monteh, Tepas dan Sapugara Bree, sementara 1 desa lainnya, yakni Desa Beru dimenangkan oleh Hatta Taliwang. Namun, secara kumulatif perolehan suara , posisi kedua adalah pasangan Busrah Hasan dan Hamid Rahman dengan perolehan suara 1678, urutan ketiga pasangan Hatta Taliwang dan H. Abdul Razak 1098 suara, posisi keempat pasangan Salim Ahmad dan H. Muhammad Syafe’i. sebanyak 779 suara, dan terakhir adalah pasangan Andi Azisi Amin dan H.Muchsin Hamin dengan perolehan suara sebanyak 752 suara. Berikut ini tabel perolehan suara masing-masing pasangan calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah pada pilkada 2005 di Kecamatan Brang rea.

Syahrul Mustofa : Data diolah hasil perolehan suara Pilkada KSB model DB I KWK
Hasil ini cukup mengejutkan sebagian kalangan. Pasalnya, bila melihat dan membandingkan perolehan suara yang diraih dalam pilkada dan perolehan hasil pemilu 2004. Pada pemilu 2004, terdapat 3 partai politik yang perolehan suaranya signifikan yakni Partai Golkar 1486 suara, PKS 1039 suara, dan PPP 616 dan PDI pendukung pasanagn calon PPP sebanyak 382 suara. Sementara PBB hanya berada pada posisi kelima dengan jumlah suara 392 suara, setelah partai merdeka 444 suara. PIB hanya 4 suara, artinya bila digabungkan total suara partai pengusung PBB dan PIBhanya 396 suara. Berikut hasil perolehan suara partai politik hasil pemilu 2004 di Kecamatan Brang Rea.

Syahrul Mustofa : Data diolah hasil perolehan suara Pilkada KSB model DB I KWK
Bila mengacu pada hasil pemilu 2004, nampak bahwa Kecamatan Brang Rea sesungguhnya merupakan basis pendukung partai golkar dan PKS. Dan pada Pemilu 2004, dukungan perolehan anggota DPRD terpilih pun yang tertinggi berasal dari partai Golkar, dan PKS. Mustafa HMS (golkar) di Kecamatan Brang Rea misalnya, memperoleh suara sebanyak 952 suara, dan Mustakim Patawari (PKS) 384 suara. Namun bila melihat hasil perolehan suara pasangan calon KDH dan WKDH yang diusung parpol Golkar sebanyak 779 suara, nampak terlihat bahwa dukungan pemilih pada pemilu 2004 dengan pemilih dalam pilkada 2005 tidaklah berjalan secara pararel-hirarkhis. Artinya, pemilih yang pada pemilu 2004 yang mendukung partai politik dan mendukung caleg tidaklah mesti pemilih tersebut akan mendukung pasangan calon yang diajukan oleh parpol yang bersangkutan. Pemilih pada pilkada 2005, tidak lagi mengikuti pilihan elite, meskipun sebelumnya dicoblos dalam pemilu 2004. Pilihan dan sikap politik pemilih yang tidak lagi “bergantung” dan berjalan lurus dengan pilihan partai politik dan elite parpol. Pertanyaannya kemudian adalah apakah pergeseran perilaku pemilih, tersebut disebabkan adanya kesadaran pemilih dalam menentukan pilihannya ataukah kegagalan parpol dalam membangun loyalitas kader partai? Inilah salah satu pertanyaan yang hingga saat ini belum dapat terjawab.
Terlepas dari pertanyaan diatas, bila dilihat perolehan hasil pemilu 2004 dan Pilkada 2005, nampak memang terlihat adanya penurunan perolehan suara dan kenaikan perolehan suara dari masing-masing partai politik. Pertama trend penurunan perolehan suara terjadi pada pilkada terhadap pemilih Partai Golkar, pada pemilu 2004 perolehan suara partai Golkar sebanyak 1486 suara, pada pilkada 2005 perolehan suara pasangan calon KDH dan WKDH yang diusung oleh partai Golkar hanya memperoleh suara sebanyak 779 suara, terjadi penurunan sebanyak 707 suara atau sekitar 47.58 % persen dari total suara pemilu 2004. PKS yang pada pemilu 2004 memperoleh jumlah suara sebanyak 1039 suara, pada pilkada perolehan suara dari calon yang diusung partai ini hanya sebanyak 752 suara atau turun sebanyak 287 suara atau sekitar 27.62% persen. Kedua PBB dan PIB yang pada pemilu 2004 hanya memperoleh 396 suara, pada pilkada pasangan calon yang diusung berhasil memperoleh suara 2078 suara , mengalami kenaikan suara sebanyak 1680 atau sekitar 424 % persen. PPP PPP dan PDI-P 998 suara, pada pilkada perolehan suara pasangan calon yang diusung sebanyak 1678, naik sebanyak 680 suara atau sekitar % 64 persen. Dan terakhir adalah PAN, yang pada pemilu 2004 hanya memperoleh suara 187 suara, pada pilkada pasangan calon yang diusung oleh PAN sebanyak 1098 suara atau mengalami kenaikan sebanyak 911 suara atau 487% persen.
Meskipun pasangan KH Zulkili Muhadli dan Malarahman yang diusung oleh PBB dan PIB mengalami kenaikan sebanyak 1680 suara atau naik 424% persen, dan pada akhirnya menjadi pemenang, namun bila dilihat dari prosentase kenaikan perolehan suara terbesar di Kecamatan Brang Rea adalah PAN yang mengalami kenaikan sebanyak 487% persen. Sehingga menempatkan pasangannnya berada pada urutan ketiga perolehan suara, dan satu-satunya Kecamatan yang memberikan konstribusi perolehan suara terbesar untuk pasangan calon KDH dan WKHD dari 4 kecamatan lainnya.
Tingginya perolehan suara pasangan calon yang diusung PAN tersebut tidak terlepas sosok Hatta Taliwang yang notabennya berasal dari Desa setempat, Kendati Hatta Taliwang secara umum kalah di kecamatan setempat, namun di desa kelahirannya, Desa Beru, Hatta Taliwang berhasil sebagai pemenang dengan perolehan suara 469 suara, mengungguli pasangan calon lainnya.
3.2. Peta Perolehan Suara Pilkada di Kecamatan Seteluk
Dari 11 desa di Kecamatan Seteluk Pasangan Andi Azizi Amin dan Muchsin Hamim memperoleh kemenangan di 6 desa, yakni desa Seteluk Atas, Mantar, Tambak Sari, Poto Tano, Per tapir, Rempe. 3 desa dimenangkan oleh pasangan Busrah Hasan dan Abdul hamid rahman, ketiga desa tersebut adalah Seteluk Tengah, Senayan, Air suning. Sedangkan 2 desa lainya dimenangkan oleh pasangan KH Zulkifli Muhadli dan Malarahman, yakni ; Desa Meraran, Kelanir. Sedangkan pasangan Salim Ahmad dan M. Syafe’i, serta pasangan Hatta Taliwang dan Abdul Razak tidak satupun memperoleh kemenangan. Dari 12523 suara sah yang masuk, pasangan Andi & muhsin memperoleh suara 4285 suara atau sekitar 34%, diikuti pasangan Busrah & Hamid sebanyak 3415 suara atau sekitar 27%, posisi ketiga pasangan Zulkifli & Malarahman sebanyak 2464 suara atau 20%, posisi keempat pasangan Salim & Syafe’i sebanyak 1665 suara atau 13% dan posisi terakhir ditempat pasangan Hatta & Razak dengan perolehan suara sebanyak 694 suara atau sekitar 6% persen. Berikut tabel komposisi perolehan suara di Kecamatan Seteluk pada pilkada 2005 :

Syahrul Mustofa : Data diolah hasil perolehan suara Pilkada KSB model DB I KWK
Pada Pemilu 2004 di Kecamatan Seteluk, Partai Golkar memperoleh suara terbesar sebanyak 2901 suara, posisi kedua PPP sebanyak 2429 suara, ketiga PDI-P sebanyak 1927 suara, keempat PAN sebanyak 1136 suara, kelima PBB 605 suara, dan keenam PKS 507 suara. Berikut perolehan suara partai politik pada pemilu 2004 di Kecamatan Seteluk.

Syahrul Mustofa : Data diolah hasil perolehan suara Pilkada KSB model DB I KWK
Bila melihat komposisi hasil perolehan suara pada Pemilu 2004 dengan Pilkada 2005. Maka, nampak terjadi kecendrungan perubahan komposisi perolehan suara yang cukup signifikan. Golkar pada Pemilu 2004 sebagai partai pemenang di Kecamatan Seteluk, pada pilkada, perolehan suara calon yang diusung Partai Golkar hanya 1665 suara, menurun sebanyak 1236 suara atau sekitar 42 % persen, dan hanya menempatkan pasangan calon yang diusungnya pada posisi keempat dan tidak ada satupun dari 11 desa yang berhasil dimenangkan oleh pasangan calon yang diusung Golkar, tidak ada satupun desa yang berhasil dimenangkan. Bahkan, di desa yang selama ini merupakan kantong basis dimana anggota DPRD terpilih sekalipun. Padahal pada Pemilu 2004 dan Pemilu sebelumnya, Kecamatan Seteluk adalah salah satu lumbung perolehan suara partai Golkar.
Penurunan perolehan suara juga terjadi pada PPP dan PDI-P, pada pemilu 2004 di Kecamatan Seteluk kedua partai ini berada pada posisi kedua dan ketiga, total akumulasi suara kedua partai ini bila digabungkan mencapai 4356 suara. Meskipun pada Pilkada pasangan calon yang diusung PPP dan didukung PDI-P ini mencapai 3415 suara, dan berhasil menduduki peringkat kedua perolehan suara, akan tetapi bila dilihat dari kecendrungan hasil tersebut nampak terjadi penurunan suara sebanyak 941 suara atau sekitar 21,60% persen dari total suara. Hal yang sama juga terjadi pada PAN, perolehan suara pasangan calon yang diusung PAN hanya sebanyak 694 suara. Padahal pada pemilu 2004, perolehan suara PAN di Kecamatan Seteluk mencapai 1136 suara, artinya terjadi penurunan perolehan suara sekitar 442 suara atau sekitar 39% persen.
PBB yang pada Pemilu 2004 mulai menguat di Kecamatan Seteluk bersama PKS, pada Pilkada semakin menampakkan kecenderungan mengalami peningkatan. PBB yang memperoleh suara pada pemilu 2004 sebanyak 605 suara ditambah PIB sebanyak 17 suara, pada pilkada pasangan calon yang diusung kedua partai ini berhasil memperoleh suara sebanyak 2464 suara, mengalami kenaikan sebanyak 1842 suara atau sekitar 296 % persen. Sementara itu, PKS yang pada Pemilu 2004 mulai mengalami penguatan, pada Pilkada 2005, perolehan suara dari calon yang diusung sebanyak 4285 suara, mengalami kenaikan sebanyak 3778 atau sekitar 745% persen. Tingginya perolehan suara yang diperoleh PKS tersebut, lebih disebabkan karena kehadiran pasangan calon, khususnya calon WKDH yang notabennya tokoh masyarakat setempat yang cukup disegani. Hal yang sama juga nampaknya terjadi pada Pasangan Busrah Hasan dan Abdul Hamid Rahman. Selain perolehan suara PPP dan PDI-P yang cukup besar, juga disebabkan kekuatan dari pasangan calon, khususnya WKDH yang notabennya juga berasal dari Kecamatan Seteluk dan merupakan keluarga besar di Seteluk. Berikut ini tabel perbandingan perolehan suara pemilu 2004 dan pilkada 2005 di Kecamatan Seteluk:

Syahrul Mustofa : Data diolah hasil perolehan suara Pilkada KSB model DB I KWK
Komposisi perbandingan perolehan suara sebagaimana diatas, menunjukkan bahwa perolehan suara partai politik bukanlah jaminan akan menentukan kemenangan pasangan calon KDH dan WKDH. Sebab, ternyata kecendrungan pemilih lebih melihat aspek kekuatan personil yang dimiliki oleh setiap pasangan calon. Dan nampak pada pilkada daya magnet issue “lenge-lenge asal tau dita diritu” (“jelek-jelek yang penting orang kita sendiri” menjadi kekuatan emosional yang menyelimuti suasana pemilih pada pilkada 2005. Sentimen kewilayahan asal pasangan calon menjadi salah satu pertimbangan yang cukup kuat mendapat perhatian dari sebagian besar pemilih pada umumnya. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan bila PKS yang hanya menduduki peringkat keenam perolehan suara pada pemilu 2004, dalam pilkada berhasil memperoleh dukungan yang luas dari pemilih di Kecamatan Seteluk, karena kehadiran sosok Muchsin Hamin.
3.3. Peta Perolehan Suara di Kecamatan Taliwang
Pemilih terbesar pada pilkada 2005 adalah berada di Kecamatan Taliwang, yakni sebanyak 30158 atau sekitar 43% persen dari jumlah pemilihan keseluruhan di KSB sebanyak 70147 pemilih. Pada Pilkada 2005, dari 11 desa dalam wilayah Kecamatan Taliwang sebanyak 9 desa, yaitu Desa Kuang, Dalam, Menala, Sampir, Bugis, Mura, Kalimantong, Kertasari, dan Labuhan Lalar dimenangkan Pasangan KH Zulkifli Muhadli dan Drs. Malarahman dengan total perolehan suara sebanyak 10111 suara atau sekitar 44% dari jumlah suara sah di Kecamatan Taliwang. Posisi kedua ditempati posisi pasangan Andi Azizi Amin.S.E.Msc dan Drs Muchsin Hamin sebanyak 4606 suara atau sekitar 19% memenangkan 1 desa, yakni Seloto, posisi ketiga ditempati pasangan Ir. H.Busrah Hasan dan Drs Abdul Hamid Rahman dengan jumlah suara 4298 atau sekitar 18%, posisi keempat diraih pasangan Drs. Salim Ahmad dan H.M Syafe’i dengan perolehan suara sebanyak 3878 suara atau sekitar 16%, dan berhasil memenangkan perolehan suara di Desa Lalar Liar dan posisi terakhir diduduki pasangan Hatta Taliwang BSW dan H. Abdul Razak.S.H dengan jumlah suara sebanyak 750 suara atau sekitar 3% persen. Berikut tabel perolehan suara pilkada 2005 di Kecamatan Taliwang :

Syahrul Mustofa : Data diolah hasil perolehan suara Pilkada KSB model DB I KWK
Bila dilihat dari hasil perolehan suara yang diraih pasangan setiap calon secara umum menunjukkan adanya peningkatan perolehan suara yang signifikan terhadap seluruh partai politik pengusung, kecuali PAN yang suaranya mengalami penurunan, pada pemilu 2004 perolehan suara PAN mencapai 1268 suara, namun dalam Pilkada perolehan pasangan calon yang diusung PAN hanya 750 suara. Secara kumulatif kenaikan perolehan suara tertinggi adalah PBB sebanyak 6609 suara, namun bila dihitung berdasarkan prosentase dai jumlah perolehan suara pemilu kenaikannya sekitar 189 persen. Posisi kedua adalah PKS yang pada pemilu 2004 hanya memperoleh suara 1374 suara pada pilkada sebanyak 3230 suara, dan bila dilihat dari prosentase kenaikannya mencapai 236 % persen dari hasil pemilu 2004. Berikut grafik perbandingan perolehan suara hasil Pemilu 2004 dan Pilkada 2005 :

Syahrul Mustofa : Data diolah hasil perolehan suara Pilkada KSB model DB I KWK
Dari data diatas terlihat bahwa pasangan nomor urut 3 (KH Zulkifli Muhadli, S.H dan Drs. Malarahman) sangat mendominasi perolehan suara di Kecamatan Taliwang. Sementara itu, perolehan suara yang relatif berimbang terjadi pada 3 pasangan calon lainnya yang selisih perolehan suaranya sangat tipis. Melihat konfigurasi perolehan suara dimana hampir seluruhnya mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan perolehan suara pada pemilu 2004, maka nampak pergeseran pemilih dalam partai tidaklah sangat signifikan, ada kecendrungan pemilih yang pada Pemilu 2004 mencoblos partai politik yang bersangkutan pada Pilkada juga memilih pasangan calon yang diajukan oleh Partai Politik yang telah dicoblosnya. Lompatan atau pergeseran pemilih hanya terjadi pada PAN.
Artinya, pada Pilkada 2005, suara pemilih yang sangat menentukan adalah pemilih dari partai politik yang pada Pemilu 2004 tidak memiliki kursi di DPRD. Pada pemilu 2004, sebanyak 4476 pemilih yang tidak memilih partai pengusung dalam pilkada para pemilih tersebut adalah antara lain berasal dari ; Pelopor, PSI, PBR, Merdeka, PKPB, PPNUI, Demokrat dan sejumlah partai politik lainnya. Berikut ini data hasil perolehan suara pada pemilu 2004 :

Syahrul Mustofa : Data diolah hasil perolehan suara Pilkada KSB model DB I KWK
Selain itu, adalah pemilih baru yang pada Pemilu DPRD tidak terdaftar dan tercatat sebagai Pemilih yakni sebanyak 4978, dan bila kedua suara pemilih tersebut (Pemilih yang tidak memilih parpol pengusung dan Pemilih yang baru tercatat) digabungkan maka mencapai 9456 pemilih. Angka tersebut ditambah dengan Pemilih yang berada pada posisi floating mass sebanyak 6718. Dengan asumsi bahwa pemilih pada pemilu 2004 juga memilih pasangan calon yang diusung oleh Partai Politik yang telah dicoblosnya, maka pada pilkada 2005 jumlah keseluruhan Pemilih yang dalam situasi “bimbang” sekitar 16174 pemilih. Pemilih inilah yang dalam Pilkada 2005, menentukan komposisi perolehan hasil suara. Pasangan KH Zulkifli Muhadli dan Drs Malarahman, nampaknya berhasil meraup suara dari Pemilih ini sedikitnya sekitar 6609 suara atau sekitar 41 % persen. Pasangan Andi Azizi Amin dan H. Muchsin Hamin sebanyak 3230 atau sekitar 20% persen. Pasangan Salim Ahmada dan M. Syafe’i sebanyak 1120 suara atau sekitar 7% persen. Sedangkan Pasangan Busrah Hasan dan Abdul Hamid, serta Pasangan Hatta Taliwang dan Abdul Razak kecendrungannya sangat kecil meraih suara ini. Sebab justeru suara Pemilu 2004 dibandingkan dengan perolehan suara pada Pilkada 2005 mengalami penurun. PAN misalnya, pada Pemilu 2004, perolehan suaranya mencapai 1258, pada Pilkada hanya 750 suara. Begitupun PPP yang didukung PDI-P, akumulasi perolehan suara kedua partai ini mencapai 4331 suara, namun dalam Pilkada perolehan suara yang dicapai pasangannya hanya 4298 atau terjadi penurunan sekitar 33 suara atau 0.20 persen. Artinya, bila pemilih PAN, PPP, PDI-P pada Pilkada 2005 juga mencoblos pasangan calon yang diajukan oleh partai tersebut, maka setidaknya suara pasangan calon yang diperoleh pada pilkada 2005 minimal sama dengan perolehan suara yang diperoleh partai pada Pemilu 2004. namun kecendrungan pemilih pada partai tersebut berpindah atau melompat dari garis partai politik sebelumnya.
3.4. Peta Perolehan Suara di Kecamatan Jereweh
Pemilih di kecamatan Jereweh sebanyak 11150 pemilih, terdiri dari lima desa dengan rincian Desa Belo 1576 pemilih, Desa Beru 2036 pemilih, Desa Goa 1853 pemilih, Benete 866 pemilih dan Desa Maluk sebanyak 4819 pemilih. Berikut tabel komposisi jumlah pemilih di masing-masing desa :

Syahrul Mustofa : Data diolah hasil perolehan suara Pilkada KSB model DB I KWK
Berdasarkan jumlah pemilih diatas terlihat bahwa jumlah pemilih terbesar adalah di Desa Maluk, mencapai 43% persen dari jumlah pemilih. Secara umum karakteristik pemilih di Desa Maluk adalah masyarakat pendatang yang notabennya secara emosional kurang memiliki kedekatan emosional kewilyahan (sebagai putra asli daerah). Pada pilkada 2005, di Kecamatan Jereweh dimenangkan oleh Pasangan Salim Ahmad dan H.M Syafe’i, sebanyak 39% persen, Berikut perolehan suara dan prosentase perolehan suara di Kecamatan Jereweh :

Syahrul Mustofa : Data diolah hasil perolehan suara Pilkada KSB model DB I KWK
Dari 5 (lima) desa yang ada dalam Kecamatan Jereweh, 3 (tiga) desa dimenangkan oleh pasangan Salim Ahmad dan H.M Syafei’i, yakni Desa Belo, Beru dan Goa, perolehan suara sebanyak 3254 suara atau sekitar 39% persen dari jumlah suara sah sebanyak 8288 suara. Sedangkan 2 desa lainnya dimenangkan oleh pasangan Andi Azisi Amin dan H.Muchsin Hamim, dengan perolehan suara sebanyak 2035% atau sekitar 25% dari jumlah suara sah. Sementara itu, tiga pasangan calon lainnya tidak memperoleh kemenangan satupun dari 5 desa tersebut. Pasangan K.H Zulkifli Muhadli dan Malarahman menduduki posisi ketiga dengan perolehan suara sebanyak 1581 suara atau sekitar 19% persen. Posisi keempat pasangan Busrah Hasan dan Abdul Hamid Rahman dengan perolehan suara sebanyak 1082 suara atau sekitar 13% persen. Dan posisi terakhir di duduki pasangan Hatta Taliwang dan Abdul Razak dengan jumlah 336 suara.
4.5. Peta Perolehan Suara di Kecamatan Sekongkang
Pemilih di kecamatan Sekongkang sebanyak 5125 Pemilih, terdiri dari 6 (enam) desa dengan rincian Desa Sekongkang Atas 1941 Pemilih, , Desa Sekongkang Bawah 766 Pemilih, Tongo 793 Pemilih, Ai Kangkung 543 Pemilih, Tatar 364 Pemilih, Talonang Baru 718 Pemilih. Berikut tabel komposisi jumlah pemilih di masing-masing desa :

Syahrul Mustofa : Data diolah hasil perolehan suara Pilkada KSB model DB I KWK
Dari 6 (enam) desa yang ada dalam Kecamatan Sekongkang, 2 (tiga) desa dimenangkan oleh pasangan Andi Azisi Amin dan H.Muchsin Hamin, yakni Desa Sekongkang Atas, dan Desa Tongo, pasangan ini memperoleh suara tertinggi di Kecamatan Sekongkang dengan jumlah 1038 suara atau sekitar 38% persen dari jumlah suara sah sebanyak 3334 suara. 3 (tiga) desa dimenangkan oleh pasangan Busrah Hasan dan Hamid Rahman, yakni Desa Tatar, Ai Kangkung dan Talonang Baru. Namun dari akumulasi perolehan suara pasangan ini hanya menduduki posisi ketiga, dengan jumlah suara yang diperoleh sebanyak 749 suara, atau sekitar 22% dari jumlah suara sah. Posisi kedua, justeru ditempati oleh pasangan Salim Ahmad dan H M. Syafe’i, kendati pasangan ini tidak yang memperoleh satupun kemenangan desa dalam wilayah Kecamatan Sekongkang, akan tetapi akumulasi perolehan suara pasangan ini mencapai 785 suara atau sekitar 24% persen dari suara sah. Posisi keempat, ditempati Pasangan K.H Zulkifli Muhadli dan Malarahman, dengan jumlah suara 722 suara atau sekitar 22% persen, namun pasangan ini berhasil memenangkan 1 (satu) desa, yakni Desa Sekongkang Bawah. Dan posisi terakhir adalah Pasangan Hatta Taliwang dan Abdul Razak, pasangan ini hanya memperoleh 40 suara atau sekitar 1% dari jumlah suara sah. Berikut tabel komposisi perolehan suara di Kecamatan Sekongkang :

Syahrul Mustofa : Data diolah hasil perolehan suara Pilkada KSB model DB I KWK
Bila melihat hasil perolehan suara Pilkada dengan Pemilu, maka nampak terjadi pergeseran sikap dan pilihan pemilih. Golkar yang pada Pemilu 2004 memperoleh suara sebanyak di Kecamatan Sekongkang, 1042 suara, pada Pilkada hanya memperoleh 785 suara, mengalami penurunan sebanyak 257 suara atau sekitar 25% persen dari total hasil Pemilu 2004. PAN yang pada Pemilu 2004 memperoleh suara sebanyak 142 suara, pada Pilkada hanya memperoleh 40 suara, penurunan jumlah suara sebanyak 102 suara atau sekitar 72 % persen. Sementara itu, perolehan suara pasangan calon lainnya mengalami kenaikan. PKS yang Pada Pemilu menempati posisi kedua perolehan suara dengan jumlah 569 suara, pada Pilkada 2005 berhasil memperoleh suara tertinggi, 1038 suara, namun prosentase kenaikan suara hanya mencapai 82% persen. PPP yang didukung PDI-P, pada Pemilu 2004 perolehan suara mencapai 219 suara atau naik sekitar 41% persen. Kenaikan perolehan suara yang sangat signifikan terjadi pada PBB dan PIB yang mengusung Pasangan KH Zulkifli Muhadli dan Malarahman. Meskipun berada pada urutan keempat perolehan suara, 722 suara, namun bila dibandingkan dengan hasil Pemilu 2004, maka terjadi kenaikan jumlah perolehan suara sebanyak 579 suara atau sekitar 405 suara. Sehingga, kendatipun kalah, namun bila dilihat dari perbandingan jumlah perolehan suara Pemilu dan Pilkada , maka parpol pengusung dan pasangan calon inilah yang terbesar mengalami kenaikan perolehan suara. Berikut grafik perbandingan perolehan suara Pemilu 2004 dan Pilkada 2005 :

Syahrul Mustofa : Data diolah hasil perolehan suara Pilkada KSB model DB I KWK
[1] Partai Golkar pada Pilkada 2005 di KSB melakukan kovensi, namun jauh hari sebelum konvensi nama Pasangan Calon yang diusung Partai Golkar telah terkampanyekan kemana-mana, mendahului hasil konvensi. Sehingga konvensi Partai Golkar terkesan “akal-akalan”, meski demikian, Partai Golkar adalah satu-satunya Partai di KSB yang melakukan konvensi untuk menjaring pasangan calon dalam Pilkada Langsung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar